Selasa, 26 Juli 2016

PETA

1.3.1. Peta
Peta adalah gambaran sebagian atau seluruh muka bumi baik yang terletak di atas maupun di bawah permukaan dan disajikan pada bidang datar pada skala dan proyeksi tertentu (secara matematis). Karena dibatasi oleh skala dan proyeksi maka peta tidak akan pernah selengkap dan sedetail aslinya (bumi). Untuk itu diperlukan penyederhanaan dan pemilihan unsur yang akan ditampilkan pada peta.
1.3.2. Proyeksi Peta
Pada dasarnya bentuk bumi tidak datar, tapi mendekati bulat. Maka untuk menggambarkan sebagian muka bumi untuk kepentingan pembuatan peta, perlu dilakukan langkah-langkah agar bentuk yang mendekati bulat tersebut dapat didatarkan dan distorsinya dapat terkontrol. Caranya dengan melakukan proyeksi ke bidang datar.
1.3.2.1. Pengelompokan Proyeksi Peta
1.3.2.1.1. Yang Mempertahankan Sifat Asli
  1. Luas permukaan yang tetap (ekuivalen)
  2. Bentuk yang tetap (konform)
  3. Jarak yang tetap (ekuidistan) Perbandingan dari daerah yang sama untuk proyeksi yang berbeda:
1.3.2.1.2. Yang Menggunakan Bidang Proyeksi
  • Bidang datar
  • Bidang kerucut
  • Bidang silinder
1.3.2.2. Proyeksi Universal Transverse Mercator (UTM)
Proyeksi UTM dibuat oleh US Army sekitar tahun 1940-an. Sejak saat itu proyeksi ini menjadi standar untuk pemetaan topografi
1.3.2.2.1. Sifat-sifat Proyeksi UTM
  1. Proyeksi ini adalah proyeksi Transverse Mercator yang memotong bola bumi pada dua buah meridian, yang disebut dengan meridian standar. Meridian pada pusat zone disebut sebagai meridian tengah.
  2. Daerah di antara dua meridian ini disebut zone. Lebar zone adalah 6 sehingga bola bumi dibagi menjadi 60 zone.
  3. Perbesaran pada meridian tengah adalah 0,9996.
  4. Perbesaran pada meridian standar adalah 1.
  5. Perbesaran pada meridian tepi adalah 1,001.
  6. Satuan ukuran yang digunakan adalah meter.
1.3.2.2.2. Sistem Koordinat UTM
Untuk menghindari koordinat negatif, dalam proyeksi UTM setiap meridian tengah dalam tiap zone diberi harga 500.000 mT (meter timur). Untuk harga-harga ke arah utara, ekuator dipakai sebagai garis datum dan diberi harga 0 mU (meter utara). Untuk perhitungan ke arah selatan ekuator diberi harga 10.000.000 mU.
Wilayah Indonesia (90° – 144° BT dan 11° LS – 6° LU) terbagi dalam 9 zone UTM. Artinya, wilayah Indonesia dimulai dari zone 46 sampai zone 54 (meridian sentral 93° – 141° BT).
1.3.2.3. Metode Penentuan Posisi
Metode penentuan posisi adalah cara untuk mendapatkan informasi koordinat suatu objek di lapangan, contohnya koordinat titik batas, koordinat batas persil tanah dan lain-lain. Metode penentuan posisi dapat dibedakan dalam dua bagian, yaitu metode penentuan posisi terestris dan metode penentuan posisi extra-terestris (satelit).
Pada metode terestris, penentuan posisi titik dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap target atau objek yang terletak di permukaan bumi. Beberapa contoh metode yang umum digunakan adalah:
  1. Metode poligon.
  2. Metode pengikatan ke muka.
  3. Metode pengikatan ke belakang.
  4. Dan lain-lain.
Pada metode ekstra terestris, penentuan posisi dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap benda atau objek di angkasa seperti bintang, bulan, quasar dan satelit buatan manusia. Beberapa contoh penentuan posisi extra terestris adalah sebagai berikut:
  1. Astronomi geodesi.
  2. Transit Dopler.
  3. Global Positioning System (GPS).
  4. Dan lain-lain.
Untuk penjelasan lebih lengkap, dapat anda baca pada artikel berikut:

Sumber Data Spasial

1.2.2. Sumber Data Spasial
Salah satu syarat SIG adalah data spasial. Ini dapat diperoleh dari beberapa sumber antara lain:
1.2.2.1. Peta Analog
Peta analog yaitu peta dalam bentuk cetak. Seperti peta topografi, peta tanah dan sebagainya. Umumnya peta analog dibuat dengan teknik kartografi, dan kemungkinan besar memiliki referensi spasial seperti koordinat, skala, arah mata angin, dan sebagainya.
Dalam tahapan SIG sebagai keperluan sumber data, peta analog dikonversi menjadi peta digital. Caranya dengan mengubah format raster menjadi format vektor melalui proses digitasi sehingga dapat menunjukan koordinat sebenarnya di permukaan bumi.
1.2.2.2. Data Sistem Penginderaan Jauh
Data penginderaan jauh, seperti hasil citra satelit, foto-udara dan sebagainya, merupakan sumber data yang terpenting bagi SIG. Karena ketersediaan data secara berkala dan mencakup area tertentu. Dengan adanya bermacam-macam satelit di ruang angkasa dengan spesifikasi masing-masing, kita bisa memperoleh berbagai jenis citra satelit untuk beragam tujuan pemakaian. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format raster.
1.2.2.3. Data Hasil Pengukuran Lapangan
Data pengukuran lapangan merupakan data yang dihasilkan berdasarkan teknik perhitungan tersendiri. Pada umumnya data ini merupakan sumber data atribut, contohnya batas administrasi, batas kepemilikan lahan, batas persil, batas hak pengusahaan hutan, dan lain-lain.
1.2.2.4. Data GPS (Global Positioning System)
Teknologi GPS memberikan terobosan penting dalam menyediakan data bagi SIG. Keakuratan pengukuran GPS semakin tinggi dengan berkembangnya teknologi. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format vektor. Pembahasan mengenai GPS diterangkan dalam subbab terpisah.
1.3. Peta, Proyeksi Peta, Sistem Koordinat, Survei dan GPS
Data spasial yang dibutuhkan pada SIG dapat diperoleh dengan berbagai cara. Salah satunya melalui survei dan pemetaan, yaitu penentuan posisi/koordinat di lapangan. Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas beberapa hal yang berkaitan dengan posisi/koordinat serta metode-metode untuk mendapatkan informasi posisi tersebut di lapangan.

Untuk penjelasan lebih lengkap, dapat anda baca pada artikel berikut:
http://localhost:88/blog_5/format-data-spasial/